Sabtu, 29 Desember 2012

Susahnya menjadi Mahasiswa Baru Di ITS


          Kalau dibilang curhatan ya mungkin benar juga. Jarang sekali saya mempublikasikan curhatan-curhatan saya kecuali di halaman facebook saya (haha). Mungkin memang saya bukan tipe orang yang senang bercurhat :D. Sekalipun "bercurhat" kali ini saya menuliskan tentang hal yang umum yang saya rasakan dengan teman-teman saya. Memang tidak mudah rasanya memasuki jenjang perkuliahan. Setelah melewati masa "putih abu-abu" alias SMA dengan segala pernak-perniknya. Yang juga banyak yang menyebutkan masa muda yang paling terkenang adalah masa-masa SMA. Nah sekarang masa tersebut telah saya lalui. Dan sekarang masuk masa kuliah. Ada senior saya yang mengatakan; saat SMA itu jika diibaratkan dengan makan kita itu masih disuapin, maksudnya kalau belajar masih dibimbing sama guru, kehidupannya pun masih dekat dengan rumah (masih enak), dan saat kita masuk perkuliahan sekarang harus makan sendiri bahkan cari makan sendiri.
          Hal-hal yang saya rasakan ini saya alami sebagai mahasiswa baru di intitut kebanggaan yaitu Institut Sepuluh Nopember. Saya lumayan heran dengan tekanan baru yang saya hadapi ini. Mulai dari masa "pengkaderan" alias ospek yang harus dijalani minimal 1 semester hingga beban-beban kuliah yang berbeda dengan saat SMA dulu. Belum lagi harus mulai membiasakan diri hidup di luar kota, jauh dari rumah. Dan hal paling berat yang saya rasakan mungkin adalah pengkaderan. Kalau dijelaskan singkatnya pengkaderan itu adalah pelatihan atau pembiasaan diri bagi mahasiswa baru agar terbiasa dengan kondisi perkuliahan. Tapi kalau yang saya rasakan tidak semuanya seperti yang disebutkan barusan (-_-"). Pada awal-awalnya memang diberi pelatihan-pelatihan yang cukup membantu, tetapi lama-lama ada istilah "penugasan" dan "pertanggung jawaban". Penugasan maksudnya para senior memberikan tugas-tugas yang menuntut untuk menyediakan waktu tersendiri dari kesibukan kita dalam penerjaannya. Tapi dari setiap tugas yang diberikan pasti terdapat essensi yang dapat diambil sebagai manfaat dari penugasan ini (katanya sih gitu). Dan pertanggung jawaban itu adalah tahap setelah penugasan tadi. Kebanyakan caranya agak aneh. Seluruh mahasiswa baru atau disebut maba dikumpulkan oleh mahasiswa lama dan dibariskan. Lalu semuanya ditanya tentang pengerjaan tugasnya atau segala macam hal-hal yang berkaitan dengan penugasan tadi. Tapi bukan sembarang bertanya, bertanya dengan membentak. belum lagi masalah kuliah yang saya belum paham-paham juga dengan mata kuliah algoritma dan pemrograman yang ada di jurusan saya.
Kalau dilihat dari sisi positif, hal-hal semacam ini memang dapat memperkuat mental kita. Mental untuk tidak jadi pemalas, mental untuk tidak pandah menyerah (cie). Intinya untuk belajar di kampus perjuangan ini memnag dibutuhkan perjuangan. Bukan mahasiswa biasa yang bisa berkuliah di ITS. J


 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar